Living in Santa Monica! #31harimenulis [DAY 9]





In Santa Monica, in the winter time, the lazy street is so undemanding, I walk into the crowd. In Santa Monica, you get your coffee from the coolest promenade where people dress just so beauty so unavoidable, everywhere you turn it’s there. I sit and wonder what am I doing here?
                Lagu itu mengalun begitu saja melalui spotify yang sedang saya buka di laptop saya. Waktu itu di akhir tahun, Desember, hujan deras sering kali mengguyur Jogja. Lagu ini pun menjadi suatu penambah kesenduan kala hujan. Irama yang tenang sangat pas untuk menemani saya mengerjakan tugas UAS di kamar kos.
                On my last posts, I have ever said that I like several songs from Savage Garden. Anyway I’m not a fan, cuma suka beberapa lagunya aja. Dan karena saya adalah tipe yang nyaman belajar sambal dengerin music. Maka pada saat itu saya mencoba mencari-cari lagu denga irama yang tenang untuk menemani saya mengerjakan tugas. Sampailah terbersit dalam pikiran saya Savage Garden. A second later I searched Savage Garden on Spotify. Trus saya shuffle play aja lagu-lagunya mereka.
                Lagu-lagu awal yang muncul cukup sering saya dengar seperti Truly, Madly, Deeply dan I Knew I Loved You. Kemudian juga lagu-lagu lainnya yang cukup saya tau seperti To The Moon And Back dan Animal Song. Sampai sebuah lagu yang belum pernah saya dengar sebelumnya mengalun. Karena awalnya saya sedang asik mengerjakan tugas saya, saya tidak ngeh dengan lagu yang sedang diputar. Tapi karena lagunya menurut saya enak, saya pun membuka kembali aplikasi Spotify hanya sekedar untuk mengetahui judul lagu tersebut, ya Santa Monica! I can say that this song is my third favourite song from Savage Garden.
                Karena memang sedang tidak focus, saya hanya mendengar sekilas saja lirik lagu tersebut. Saya tidak benar-benar memperhatikan apa pesan yang disampaikan dalam Santa Monica. Tapi ada kalimat-kalimat yang jelas terdengar, karena memang bagian inilah yang diulang-ulang.
But on the telephone line I am anyone, I am anything I wanna be. I can be a supermodel, a Norman Mailer, and you wouldn’t know the difference. See on the telephone line I am any height, I am any age, I wanna be. I can be a cape crusader, a space invader, and you wouldn’t know the difference, would you?
                Awalnya hanya kata supermodel saja yang menonjol. Setelah saya dengar keseluruhan lirik, saya pun mulai mengerti bahwa lagu ini sebenarnya cocok-cocok juga dalam kehidupan sekarang. Intinya adalah tentang seorang yang merasa minder dalam lingkungannya dan merasa bahwa untuk menjadi orang super itu harus keren dan mengikuti trend! Well I got this topic!
                Okelah gua mulai lelah dengan “saya”, mulai dari sini, bahasanya non formal aja yaa
                Jadi setelah melihat keseluruhan lirik, gua jadi penasaran apa sih Santa Monica itu. Google said that Santa Monica is a city in California. Kalo menurut lagu tersebut sih Santa Monica bisa lah ya disandingkan dengan kehidupan Jakarta, untuk level Indonesia. All the things mentioned in the lyrics were reflected in most Jakarta citizens’ lifestyle. Jujur, gua yang lahir dan besar di Jakarta juga berpikir demikian kok, kaya lo butuh menjadi keren dan ikut tren untuk bisa dibilang super!
                Di bait pertama, lagu itu menggambarkan bahwa masyarakat di Santa Monica itu selalu berpenampilan maksimal, sangat menawan. Dan bahwa kemana pun kamu melihat, semua orang memang berpenampilan seperti itu, ga ada yang sederhana, semuanya totalitas. Si tokoh utama pun merasa terasingkan, karena dia ga se wow itu dalam berpenampilan, dan merasa minder di tengah lingkungan yang so beauty unavoidable itu sampai bahkan dia menanyakan sendiri kenapa dia bisa ada di lingkungan kaya gitu.
                Denger bait pertama itu gua awalnya ga mikir Jakarta atau kota metropolitan lainnya di Indonesia. Gua malah keinget Capitol nya Hunger Games. If you ever watched this movie, you must get my idea. Karena emang penduduk Capitol itu juga luar biasa kan dalam berpenampilan, like your appearance reflects how you wanna be known. Mereka membranding diri mereka dengan penampilan yang wow dan unik. But I’m pretty sure yang dimaksud penulis lirik pasti ga seektstrem masyarakat Capitol.
                Sebenernya masalah berpenampilan ngetren itu emang sesuatu yang anak muda banget, terutama di kota-kota besar. Gua sendiri pun berusaha tampil baik, namun gua bukan tipe yang fanatic mati-matian mengikuti tren dan terlihat keren hanya agar diakui. Emang bener sih di Jakarta anak mudanya itu perhatian banget sama penampilan mereka. Salah kostum dikit lo bisa dianggep katro, atau ga keren (tergantung temen main lo juga sih).
                Intinya semacam semua orang harus berpenampilan seolah mereka kaya. Like I know several persons itu secala finansial kurang mampu. Cuma mereka beli barang branded yang KW agar diakui, gadget pun pake yang high-end class, like iPhone misalnya, walaupun mungkin iPhone nya itu bekas atau bukan yang keluaran terakhir. Bukan suuzon ya, I can guess mana orang yang beneran berpenampilan karena emang bener punya uang dan mana yang mau sok kaya atau sok keren aja melalui penampilan mereka. You can guess it guys! Karena ada yang make barang branded tapi kalo makan dengan pengeluaran 20rb sekali makan aja udah ngeluh mahal. Ya Bapa, apalah artinya 20rb lo itu ketimbang barang branded lo hah? Yah self-branding lo langsung runtuh itu. Ada juga yang kalo di medsos pamer mulu ke Starbucks atau café lainnya sambil difoto minumannya. Biar kesannya “nongkrong elite”, padahal sih kalo bayar iuran kas aja nunggak, pengeluaran buat kerja kelompok aja minta yang murah terus. Yah prihatin gua sama self-branding lu.
                Lanjut ke bagian reff nya. Disitu si penulis lirik mengungkapkan kalo emang di dunia real dia ga bisa dianggep cool, keren, trendy, dll. Tapi kalo di telpon dia bisa membuat dirinya keren seolah dia supermodel, space invader etc. Dia juga bisa ngaku-ngaku dia itu tingginya berapa, umur berapa, dan sebagainya. Mungkin karena pada saat itu media sosial berbasis internet belum ada, jadilah telepon sebagai media patokan.
                Tapi kalo lihat di kenyataan sekarang, melalui media sosial di internet, kita bisa lihat bagaimana setiap orang berusaha membentuk dirinya dilihat oleh orang lain dengan citra yang sangat baik. Like you always post something that makes you looks happy in every condition, cool, high class, gaul, dan lain lain. Padahal in reality, banyak banget yang kebalikannya. Kita emang cenderung untuk membagikan kepada orang lain hal-hal yang baik saja yang menunjukkan kehidupan kita menyenangkan. Itu memang benar dan gua malah merasa aneh sih kalo ada orang yang memelas kasihan dengan bergalau ria meratapi nasibnya dan menceritakan segalanya di media sosial. But yang gua prihatin adalah anak jaman sekarang rela banget melakukan suatu hal cuma untuk post di medsos dan keliatan keren. Guys, every one of you punya kelebihan sendiri-sendiri yang bisa jadi titik paling keren lo di antara orang lain. You don’t have to pretend to be someone else just to be accepted. Gausah lah ngikutin mati-matian gaya orang lain. Lo bisa menjadi keren karena sifat asli lo sendiri, believe me!
                Jangan pernah minder sama diri sendiri. Gede-gedein dah confidence lo semua. PD aja dengan gaya lo sendiri, lo terlahir untuk menjadi versi terbaik bagi diri lo sendiri, bukan versi KW dari orang yang lo anggap keren. Gua bahkan salut sama orang-orang yang ga sok-sok keren di depan umum. I have some friends who are really rich, but they always have that simple style. Ga muluk-muluk. Gausah lah sok sok branded kalo makan murah masih ngeluh mahal. Itu temen-temen gua yang kayanya banget-bangetan berani loh tampil sederhana. Dan gua salut abis sama mereka yang tampil bersahaja gitu. Take hat off to you!

Comments

Popular Posts