Mengapa Saya Memilih Ahok? #31harimenulis [Day 5]





                Saya masih ingat sekitar kelas 9 awal kalo ga salah, waktu itu tahun 2012. Pilkada DKI mengusung 2 pasang calon, ada dari Foke dan wakilnya (saya lupa namanya), dimana Foke adalah petahana, dan pasangan yang lain adalah Jokowi dan Ahok. Keadaan masyarakat saat itu tidak sedemkian heboh sebagaimana sekarang. Tentu ada perdebatan antar pendukung, tapi tidak setajam kali ini.
                Berhubung waktu itu saya masih kelas 3 SMP, tentu saya belum memiliki hak untuk memilih. Demikian pula saya tidak tertarik untuk membahas ataupun berdebat sengit mengenai calon pemimpin DKI tersebut. Paling-paling hanya membahas karakter dan latar belakang dari kedua pasang calon bersama teman-teman saya di belakang kelas saat istirahat.
                Mungkin didorong faktor kurang puas terhadap pemerintahan Foke, pengusungan Jokowi-Ahok memberikan semangat perubahan dalam pilkada. Angka yang memilih Jokowi dan Ahok pun lebih banyak ketimbang sang petahana (walaupun tidak sangat signifikan juga, setidaknya tidak setipis pilkada saat ini.
                Saya yang tidak memiliki hak pilih mencoba mengamati bagaimana latar belakang dari Jokowi dan Ahok. Seperti kebanyakan warga DKI lainnya, saya juga lebih condong untuk memilih pasangan baru ini, ketimbang sang petahana. Joko Widodo dipandang sebagai orang yang berhasil dalam melaksanakan tugasnya saat menjadi Walikota Solo. Pria yang berlatarbelakang wirausahawan furniture tersebut mampu memberi perubahan pada Kota Solo dan membawa simpati bagi warga Jakarta. Beda lagi dengan Ahok yang bernama asli Basuki. Ia juga dipandang sukses dan tegas saat memimpin Kabupaten Belitung Timur. Keduanya sudah sangat berhasil dalam jenjang kabupaten/kota, dan bersuap melanjutkan karir mereka ke jenjang gubernur.
                Awalnya citra mereka sangat baik. Namun memang, politik tidak pernah bersih dari fitnah dan black politics untuk menjatuhkan lawan dalam pilkada. Saya ingat jelas isu-isu bahwa Jokowi itu keturunan Cina, dia bukan muslim, dia kejawen, dll. Begitu pula Ahok yang memang sudah jelas-jelas Cina dan Kristen. Namun isu tersebut masih bisa teredam.
                Saat kelas 9 itu pun, remaja awal seumuran saya tentu sedang asyik-asyiknya bermain sosial media seperti Facebook, Twitter, BBM dll. Dalam sosial media tersebut ternyata pengaruh politik pun sangat kuat. Isu pemimpin non muslim sebenarnya juga sudah terjadi saat itu. Namun karena calon gubernurnya ialah Jokowi yang memang Muslim, dan Ahok yang Kristen hanyalah seorang wakil, hal itu dapat ditepis oleh pikiran rasional masyarakat DKI. Tidak sampai situ, saya juga masih ingat banyak yang mengatakan “kalo mereka terpilih jadi gubernur, nanti pasti itu Jokowi nyalon jadi presiden, nah kalo udah gitu nanti Ahok yang gantiin jadi gubernur, nah gabaik kan kalo gubernur kita non muslim, udah makanya jangan pilih Jokowi-Ahok.” Sialnya mereka sangat benar. Entah kekuatan apa yang dimiliki kaum dengki ini, nubuat mereka tentang Jokowi yang naik jadi Presiden, dan majunya Ahok sebagai Gubernur digenapi secara sempurna 2 tahun kemudian.
                Hal mengenai nubuat kaum sirik + dengki tersebut memang digenapi secara utuh. Mungkin mereka memiliki semacam wahyu atau prediksi yang sangat kuat terhadap hal tersebut. Namun bukan itu, poin utamanya. Poin utama saya disini adalah bagaimana DKI menjadi lebih baik saat pemerintahan Jokowi dan Ahok.
                Saat Jokowi diangkat menjadi gubernur, mendadak istilah “blusukan” menjadi sangat familiar di berbagai media maupun kehidupan sehari-hari. Okelah saya memang saat itu masih sangat muda dan belum terlalu meneliti politik. Tapi jujur saja, sebelum Jokowi menjadi gubernur istilah “blusukan” sangatlah asing bagi saya. “Blusukan” (ikut turun dalam kehidupan masyarakat terutama daerah yang padat dan kumuh) memang menjadi salah satu ciri khas dari Jokowi.
                Bagaimana dengan Ahok? Jujur saja saat Jokowi masih menjabat sebagai gubernur, saya menilai Ahok sebagai orang yang cukup arogan. Gimana tidak? Ia sangat jarang terlihat turun ke masyarakat dibanding dengan Jokowi. Dari tutur berbicara pun ia terkesan sangat kasar dan tidak sopan.
                Saya bersekolah di SMP Negeri, namun saya masuk di kelas Bilingual (semacam kelas internasional atau RSBI). Tentu saja tidak mungkin gratis sekolah di sana, even anak regular pun harus tetap membayar iuran untuk ekskul dan fasilitas atau kegiatan additional lainnya. Namun saya ingat jelas, sebelum pilkada berlangsung, Foke, yang merupakan petahana (sekitar 1 atau 2 bulan sebelum pilkada) meluncurkan kartu wajib sekolah 12 tahun. Dengan programnya tersebut seluruh anak DKI Jakarta kelas regular tidak akan dipungut biaya SPP di sekolah (SD, SMP, SMA) negeri. Namun, biaya tambahan yang lain masih boleh dong? Iya! Biaya ekskul masih ada
                Baru pada pemerintahan Gubernur Jokowi sekolah negeri dilarang ketat untuk meminta uang sepeser pun pada siswa. Pemerintah menjamin pembiayaan seluruhnya dari APBD DKI. Hal ini yang membuat saya kagum pada awalnya. Bahkan sekolah saya saat ingin mengadakan acara bulan Ramadhan pun harus berpikir dua kali, karena apa? Mereka hendak memungut biaya dari siswa, namun sangat takut dengan peraturan sang Gubernur ini.
                Berlanjut saat SMA, perubahan sangat banyak terjadi. Kali/sungai banyak yang direvitalisasi. Bangunan kumuh di pigir sungai atau yang bukan wilayah huni pun banyak digusur dan ditata ulang. Sampai pada saat Jokowi terpilih menjadi presiden. Ahok selaku waki otomatis naik menjadi Gubernur. Di sini, sosok Ahok yang tadinya terkesan arogan perlahan mulai terbuka dan banyak terjun ke masyarakat.
                Pada masanya banyak juga perbaikan di sudut Kota Jakarta. Misalnya saja busway, jalur busway diperbanyak dan busnya pun diperbaharui. Jalan raya depan komplek saya yang tadinya tidak memiliki akses Busway, sejak tahun 2014 telah memiliki akses busway dengan bus yang baru dan sangat nyaman, dan yang paling saya perhatikan adalah adanya CCTV dari busway-busway baru ini yang tentu saja membuat tingkat keamanannya lebih tinggi. Halte busway kini juga disediakan TV LED yang menampilkan jadwal keberangkatan selanjutnya, persis memberikan informasi sebagaimana di bandara. Bahkan untuk meluaskan aksesnya, tersedia Trans Jabodetabek yang menjangkau kota-kota di sekeliling Jakarta. Adanya bus tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah DKI terhadap warga Bodetabek yang bekerja atau sering berlalulalang di Kota Jakarta
                Daerah kumuh juga banyak digusur. Contohnya saja waduk Ria-Rio di Pulomas. Sekolah saya di Pulomas tentu saja saya sering melewati daerah tersebut. Daerah tersebut awalnya sangat kumuh, bau, dan berantakan, bahkan air waduknya sangat kotor. Namun setelah revitalisasi, bisa dibuktikan sekarang kok, sila lihat ke Pulomas, sekarang terpampang taman yang sangat bersih dan apik di sekitar waduk tersebut, demikian juga waduknya telah dibersihkan dan ditata ulang.
                Poin utama yang menarik adalah adanya “sms Ahok”. Bagi warga Jakarta tentu saja dua kata tadi adalah momok yang sangat menakutkan. Iya, warga Jakarta punya akses langsung untuk melaporkan kritik dan keluhan berkaitan lingkungan Jakarta dengan sang Gubernur. Dan respon yang dilakukan sangat cepat, banter-banter paling lama 3 hari itu sudah keliatan perbaikan atas kritik kita. Nomor untuk “sms Ahok” itu memang Pak Ahok sendiri yang memberikan 3 nomor (berbeda operator) untuk menampung keluhan warga Jakarta. Dan ia sendiri dengan sigap menanggapi keluhan tersebut.
                Mengapa saya bangga sama poin ini? Kesigapan dalam menanggapi itu! Ada jalanan rusak, atau lampu jalan padam, kamu sms, ga nyampe beberapa hari hal tersbeut sudah diperbaiki. Bahkan kalo kamu lagi ngurus surat atau birokrasi dan dipersulit oleh pegawai pemerintah, ketika kamu sms, besoknya bisa kena marah langsung sama Ahok pegawai tersebut. Melihat ketegasan Ahok, ancaman “sms Ahok” rupanya sudah sangat cukup membantu. Bahkan kalo kamu misalnya kaya tadi dipersulit dalam urusan birokrasi oleh orang kelurahan misalnya, kamu ancam aja dia “Bapak kalo nyusahin saya, saya bisa laporin ke Ahok ya pak!”, udah jelas itu pegawai pasti langsung manut dan mengurus urusan kita dengan segera.
                Masih banyak poin-poin yang sangat baik yang telah dilaksanakan baik selama bapak Jokowi, maupun Ahok. Namun saya tidak mau terlalu fanatic dalam hal tersebut. Saya mengakui dia juga memiliki kekurangan. Yang memang paling jelas adalah attitude nya. Iya, saya setuju sama kalian yang benci Ahok, kalo Ahok itu ga santun, suka ngebentak, dan ngomongnya asal bunyi aja, kurang bersimpati dll. Tapi bisa kita lihat, sikapnya tersebut menjadi batu sandungan bagi dirinya sendiri saat ia terjebak dalam kasus Al-Maidah. Saya bisa lihat dia sangat terpukul dengan terjerat kasus tersebut. Kini sudah bukan rahasia umum kalau dia sudah berusaha merubah diri, bisa kita lihat dari cara dia berbicara dan berkomunikasi saat debat, sudah sangat banyak perubahan. Dengan ini saya yakin untuk mendukung Ahok-Djarot melanjutkan pemerintahan mereka.
                Lalu mengapa saya tidak memilih Anies-Sandi? Pertama saya sudah sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Ahok-Djarot, dan saya menilai mereka pantas untuk melanjutkannya. Kedua, Anies itu Menteri dan dipecat pula, kalo bukan karena gagal akan tugasnya, karena apa lagi dia dipecat? Dan Sandi itu pengusaha kaya raya, ga ada latar belakang politik loh, kalo misalnya dibilang suuzon, saya bisa bilang setiap pengusaha itu hanya untuk cari untung, dan bukan ga mungkin dia menjadi wakil gubernur juga untuk meluaskan bisnisnya kan? Ketiga, program mereka ga jelas, pertama begini, terus begitu. Tadinya bilang mau bangun rumah agar setiap warga Jakarta bisa memiliki rumah, eh terus bilang lagi “kita fokusnya di hunian vertical”, padahal baru aja dia menyerang ide “rusun” nya Ahok. Dan terakhir dia bilang, kita sediakan program DP 0% nya, rumahnya silakan pilih sesuai kemauan warga. Lah kocak, dikiran harga rumah ga mahal kali ya? Kalo gitu saya juga mau dong milih rumah di Pondok Indah, tapi DP 0% ya, abis itu saya mati deh kelilit hutang hahaha.
                Selanjutnya sebagai anak komunikasi, tentu saya belajar public speaking. Anak Komunikasi pasti kenal banget dengan teori Retorika? Nah ya itu Anies itu bepridato dengan retorika. Menyampaikan dengan tujuan persuasi, padahal isinya kosong. Kalo udah kalah telak dia ngomong “Ini semua masalah keberpihakan”. Begitu juga pasti anak komunikasi ga asing dengan teori “Narrative Paradigm”, menurut teori tersebut saat melakukan pidato atau persuasi akan lebih menarik interest jika dengan cerita narrative ketimbang berupa poin-poin ide. Dari teori tersebut saya bisa lihat jelas pasangan Anies-Sandi menggunakan cara ini. DI saat kubu Ahok-Djarot menyebutkan poin-poin keberhasilan dan target mereka selanjutnya, malah Anies-Sandi selalu membawa cerita dari masyarakat yang ditemuinya seperti :

  • Waktu itu saya bertemu ibu X, dia mengeluh akan biaya sewa rusun yang mahal…
  • Seperti Bapak Y, tadinya ia sangat kebingungan membuka usaha, namun berkat program Oke Oce, kita bantu beliau untuk…
  • Ada juga Pak Z, nelayan di pantai Jakarta yang mengeluh dengan program reklamasi yang tidak memerhatikan kaum nelayan..

                Begitulah alasan saya sangat mendukung Ahok. Namun untuk pilkada kali ini, siapa pun yang menang adalah suara masyarakat Jakarta. Jangan sampai masyarakat terpecah -belah oleh pilkada. Saya doakan yang terbaik untuk Jakarta. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberkati Jakarta, Amin.

               


Comments

Popular Posts