Metroseksual di Lingkungan Kampus #31harimenulis [DAY 6]



                Bermain ask fm di kalangan anak muda sudah menjadi hal yang umum. Terutama dalam kisaran waktu tahun 2015. Dulu gua ga tahu apa itu ask fm, bikin akun cuma ikut-ikutan temen aja bikin. Jarang sekali asked a question to someone else, jarang juga receive question. Cuma sekedar lihat-lihat timeline aja.
                Ada satu hal yang membuat ask fm ini berbeda dengan media sosial lainnya. Menurut gua, dalam ask fm setiap orang menjadi lebih berani untuk mengungkapkan pendapat dan tak segan untuk menuliskannya in paragraphs just to explain how logical their opinion is. Bahkan untuk opini-opini yang menurut saya cenderung berbeda dari pendapat masyarakat umum. Sebut saja misalnya topik mengenai LGBT. Bukan hal yang sulit untuk menemukan tokoh-tokoh yang mengaku sebagai gay dan menjelaskan kepada netizen ask fm mengapa being gay is pretty normal with a long explanation. Jujur, beside that LGBT topics, there are many other “dangerous” topics that can change the way you see something, yang yaa bisa dibilang adu ideologi di ask fm itu.
                Berangkat dari situasi seperti ini, gua jadi tidak asing dengan pembahasan mengenai seksualitas. Gua bukan orang yang menutup diri dari belajar mengenai hal yang belum umum, namun juga tidak langsung menerima segalanya secara mentah-mentah tanpa melakukan “mini research” di internet untuk membuktikan kebenaran dari suatu hal. Dari situ muncullah istilah “metrosexual”. When I first heard it, I was like “what kind of orientation is it?”. I mean like I have regocnised what it means to be heterosexual, homosexual, bisexual, pansexual, etc. But this one was new to me! Setelah saya mencari-cari definisi lebih lanjut mengenai metrosexual, I found that it’s not kind of sexual orientation, but more like lifestyle.
                Bahkan karena pikiran “orientasi seksual” tadi, temen gua sempat menunjukkan meme berikut yang bikin gua ngakak hahaha.

                   Okay that’s only for intermezzo! So now, what is the definition of Metrosexual? I myself define it as a guy who pays a lot of attention to his appearance, from his head to toe. He always wanted to have good look, like wearing stylish clothes, putting wax on his hair, wearing perfume, and so on. Intinya dia peduli dengan sangat terhadap penampilannya tersebut. Metrosexual itself derived from the words “metropolitan” and “sexual”, means that only those guys living in metropolitan cities can be metrosexuals.
                Untuk tugas UAS semester lalu, gua mengangkat metrosexual ini sebagai salah satu topik dalam essay gua. Waktu itu gua membeli sebuah buku yang judulnya “Metroseksual dalam Perspektif Komunikasi”. So, yeah, bagaimana gua memandang metroseksual sekarang sedikit banyak terpengaruh oleh buku itu.
                Metroseksual hadir sejak majalah sebagai media komunikasi semakin marak diminati. Melihat minat yang tinggi, akhirnya mulai bermunculan majalah wanita yang memiliki topik utama lifestyle. Majalah tersebut akan membahas mengenai seluk-beluk gaya hidup wanita, terutama fashion. Ternyata majalah seperti ini pun laku keras. Mereka pun mulai melebarkan sayap dengan memproduksi majalah-majalah khusus pria. Memang bukan focus mengenai fashion, namun dalam majalah pria, umumnya model dalam majalah tersebut menunjukkan pria yang rapih dan memiliki selera berpakaian yang menarik. Lambat laun dalam banyak media massa, pria ideal digambarkan sebagai laki-laki yang mampu merawat diri (dalam artian penampilan), mampu memilih model baju yang tepat, bawahan yang menarik, sneakers yang gaul, tahu cara menata rambut, senang berkaca dan mencukur (merapikan) bulu di wajah, dan lain-lain. So it’s all about the commercialization and media power.
                Dari pengertian gamblang tadi, banyak yang mengatakan bahwa metrosesksual tak berbeda dengan gay. We know that the stereotype saying gays have good skill in fashion and shopping, so do metrosexuals. But they are very different! Metroseksual itu lebih ke gaya hidup, sama sekali tidak berkaitan dengan orientasi seksual. A metrosexual can be gay, straight, or even bisexual. Jadi metroseksual ga ada pengaruhnya dengan apakah ia jantan atau melambai, gay atau straight, dll.
                Sekarang mari kita lihat hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kampus gua. Laki-laki yang metrosexual tentu harus berasal dari kalang menengah ke atas. Mengapa demikian? Untuk dapat melakukan perawatan atau kumpulan outfit yang menarik tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Membentuk tubuh yang atletis di gym agar tampil lebih menarik pun membutuhkan biaya yang tidak bisa dianggap remeh. Oleh sebab itu kita dapat lihat bahwa laki-laki yang terkesan rapih dan peduli terhadap appearance nya selalu berasal dari keluarga yang berada.

                Budaya memperhatikan penampilan juga dipandang berbeda-beda oleh setiap orang. Misal saja, dulu waktu SD gua bersekolah di sekolah yang, maaf saja, kebanyakan siswanya berasal dari masyarakat kelas ekonomi bawah. Tentu dalam lingkungan yang seperti itu, laki-laki lebih digambarkan sebagai manusia yang cuek terhadap penampilan. Bukanlah focus utama mereka untuk tampil menarik dengan pakaian yang up to date dan bepergian untuk mencukur dan melakukan perawatan misalnya. Atau contoh yang simple saja, menjelang remaja wajah kita memiliki produksi minyak yang berlebih, kalo ga dibersihin bisa timbul jerawat. Kalian pasti ga asing dengan kertas pembersih minyak di wajah yang warnanya biru? Produk tersebut untuk pria juga ada, dengan branding yang dibuat lebih jantan dan kesan cool, walaupun bahan nya sama persis dengan produk yang di branding untuk perempuan. Ini cuma permainan marketing aja. Nah bukan hal yang salah kan sebenarnya untuk membawa kertas tersebut kemana-mana untuk mempermudah membersihkan wajah. Sayangnya mereka mengatakan itu salah besar. Bisa dikatain bencong kalo kamu make begituan. Bagi mereka laki-laki yang jantan itu ya gausah muluk-muluk sama penampilan, produk dan kebiasaan yang demikian hanya hak mutlak perempuan.
                Berbeda lagi dengan lingkungan saat gua SMA. Bisa dibilang justru hampir semua anak di SMA gua berasal dari keluarga yang mampu sampai mampu banget (atas). Nah persepsi tentang menjaga penampilan berubah disini. Adalah hal yang umum bagi teman-teman laki-laki untuk menggunakan sisir demi menjaga rambut mereka tetap dalam keadaan baik, atau bahkan sampai menggunakan pomade. Katanya sih biar ganteng! Ga jarang juga setiap gua ke toile cowo pasti nemuin anak cowo yang lagi cuci muka atau sekedar berkaca sambal merapikan rambut denga jarinya. Ga ada yang salah kan? Tapi kita bisa lihat perbedaan persepsi mereka terhadap penampilan. Mengenai kertas wajah tadi, temen cowo gua ga ada yang sungkan kok untuk menggunakannya, atau bahkan kalo ada anak cewe yang bawa, mereka juga ga segan minta. Ya kenapa juga harus segan, kan untuk membersihkan, kita sebagai cowo mau tampil ganteng juga dong! Ga ada sama sekali pikiran bahwa hal menjaga penampilan pada cowo nanti bia dikatain bencong atau kemayu atau apalah. Ketika hang out di luar sekolah pun mereka memiliki selera outfit yang keren, trendy, dan menarik lah pokoknya. Mereka tau cara memadupadankan antara atasan, bawahan, sepatu, atau mungkin dengan tambahan outwear yang sporty. Mereka rata-rata juga membawa deodorant, atau cologne, atau parfum untuk menopang kesempurnaan penampilan, terutama saat hari ada pelajaran olahraga.
                Lalu gimana dengan di kampus gua sendiri? Gua akui untuk laki-laki yang bisa dikatakan metroseksual memang berasal dari anak-anak IUP (International Undergraduate Program). Sementara yang dari kelas regular terdapat sebagian yang dapat dikatakan metroseksual, sementara kebanyakan cukup dikatakan tidak terlalu mementingkan penampilan, atau berpenampilan sederhana saja. Melihat realitas ini, berarti benar apa yang dikatakan buku tersebut bahwa memang lifestyle metroseksual berkaitan dengan tingkat ekonomi dari orang tersebut.
                Gua sendiri ga pernah membuat pemikiran bahwa laki-laki yang metroseksual adalah gay, banci, atau apalah. Karena gua juga berpikiran kalo emang kita mau menjaga penampilan trus kenapa? Ga boleh? Masa cowo ga boleh tampil ganteng? Menggunakan produk pomade atau kertas minyak ga serta merta membuat kita kehilangan sifat maskulin, malah menjadi makin cool berkat penampilan yang menarik. Memilih untuk berpakaian yang lebih formal seperti kemeja pun bukan hal yang aneh. Kemeja bisa memberi kesan rapi dan maskulin sekaligus. Kaos pun bisa menjadi terlihat lebih keren ketika kita tahu model dan paduan yang tepat. Ga berarti kamu pake kemeja ke kampus dibilang metroseksual, sementara yang make kaos aja dibilang normal-normal aja. Membentuk penampilan tubuh yang lebih baik melalui gym juga bukan suatu yang aneh kok. Meski banyak yang bilang gym cuma buat homo. Tapi nyatanya banyak juga kok staright dan perempuan yang ngegym. Sekali lagi, peduli pada penampilan tidak berkaitan dengan tingkat maskulinitas dan orientasi seksual
                Bagaimana dengan pendapat perempuan? Banyak perempuan yang berkomentar, kenapa sih jadi cowo peduli amat sama penampilan, tampil biasa aja! Tapi giliran mereka diberi foto para model yang notabene metroseksual, mereka juga suka, mereka lebih prefer para model yang berpenampilan menarik ketimbang cowo yang urak-urakan. Mereka yang berasal dari masyarakat urban cenderung tidak akan banyak berkomentar berkaitan hal metroseksual ini. Beberapa mengatakan bahwa mereka senang dengan cowo yang rapi, tapi ya jangan sampai lebay juga, jangan sampe dia lebih tau detil fashion ketimbang perempuan. Kalo sama yang ini gua setuju-setuju juga sih hahaha.
Sekian.


Comments

Popular Posts